Sejarah-Dari-Politik-Apartheid-Afrika-Selatan
Info Politik

Sejarah Dari Politik Apartheid Afrika Selatan

Berita Terbaru – Afrika Selatan menjadi salah satu negara paling tua di benua Afrika. Negara ini memiliki 11 bahasa resmi, dan merupakan negara dengan populasi kulit putih terbesar di benua Afrika. Afrika Selatan juga terkenal dengan deposit emas dan berlian platinumnya. Afrika Selatan juga menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2010 yang menghasilkan Spanyol sebagai juaranya. Selain dikenal sebagai penghasil pemain sepak bola hebat seperti Mark Fish, Benni McCarthy, atau Steven Pienaar, negara penghasil berlian ini juga dikenal sebagai politik apartheid. Orang yang merasakan pahitnya apartheid adalah Nelson Mandela.

Siapa yang tidak kenal dengan Nelson Rolihlahla Mandela atau yang lebih dikenal dengan Nelson Mandela? Selain dikenal sebagai orang kulit hitam Afrika Selatan pertama yang menjabat sebagai Presiden (1994-1999), Mandela juga merupakan sosok yang berjasa menghilangkan pengaruh apartheid di Tanah Air. Singkatnya Politik apartheid ini merupakan sebuah pembatasn untuk kulit hitam dan kulit putih.

Awal Mula Adanya Politik Apartheid

Kebijakan politik apartheid ini terjadi karena banyaknya perlakuan buruk terhadap masyarakat adat di Afrika Selatan. Pada tahun 1652 Belanda menjajah Afrika Selatan dan membuat Inggris juga ingin mencicipinya. Inilah yang membuat pecahnya perang Boer pada tahun 1899-1902 antara Belanda dan Inggris. Setelah Inggris menguasai Afrika Selatan, diskriminasi oleh Inggris terhadap suku asli Afrika Selatan muncul.

Penduduk Afrika Selatan kemudian diklasifikasikan menjadi empat kelompok besar, yaitu keturunan kulit putih atau Eropa, suku Bantu (suku asli di Afrika Selatan), orang Asia yang sebagian besar berasal dari Pakistan dan India, dan orang kulit berwarna atau berdarah campuran, dimana kelompok Cape Malay termasuk. Hal ini tentu saja membuat pemisahan suku yang dilakukan di Afrika Selatan mendapat respon dari dunia internasional.

Bahkan Majelis Umum PBB mengutuk tindakan ini. Tindakan yang dilakukan pemerintah juga mendapat respon serius dari masyarakat Afsel. Di Afrika Selatan sering terjadi gerakan pemberontakan untuk menghapus kekuasaan Apartheid. Salah satu yang paling terkenal adalah yang dipelopori oleh Kongres Nasional Afrika (ANC) yang berada di bawah kepemimpinan Nelson Mandela.

Berakhirnya Politik Apartheid

Sedangkan oada tahun 1961 Mandela  yang menjadi pemimpin aksi Afrika Selatan untuk tinggal di dalam rumah. Tindakan ini ditanggapi oleh pemerintah Apartheid dengan menangkap dan kemudian menjebloskan Mandela ke penjara Pretoria pada tahun 1962. Setelah 28 tahun kemudian dia baru dibebaskan tepatnya 11 Februari 1990 di masa pemerintahan Frederik Willem de Klerk.

Dari pembebasan Nelson Mandela ini tentu saja memiliki efek positif untuk perjuangan rakyat Afrika Selatan untuk menghapus kebijakan politik Apartheid. Di tanggal 2 Mei 1990, pemerintah Afrika Selatan melakukan negosiasi dengan ANC untuk pertama kalinya. Negosiasi ini bertujuan untuk memberlakukan undang-undang non-rasial. Pada tanggal 7 Juni 1990, Frederik Willem de Klerk menghapus Undang-Undang Darurat Negara yang berlaku di hampir setiap bagian negara Afrika Selatan.

Nelson Mandela butuh waktu lama untuk membangun kekuasaan tanpa rasisme dan menghapus aturan Apartheid. Pada tanggal 21 Februari 1991, UU Apartheid resmi dihapuskan dan Nelson Mandela menjadi seorang presiden. Dia dinobatkan sebagai presiden kulit hitam pertama di Afrika dan dianugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian, yang juga menandai berakhirnya politik Apartheid di negara penghasil berlian itu.

Dampak Penghapusan Apartheid

Dengan dihapusnya politik Apartheid di Afrika Selatan tentu saja menimbulkan efek yang sangat besar di semua aspek kehidupan. Setidaknya ada 4 efek yang sangat terasa dari kebijakan ini yaitu.

  • Komunitas kulit hitam dan putih di Afrika Selatan dapat hidup berdampingan tanpa batasan rasial
  • Penyebaran anti rasisme di dunia internasional
  • Munculnya kesetaraan melawan orang kulit hitam di seluruh dunia
  • Afrika Selatan mampu melaksanakan reformasi berdasarkan keanekaragaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *